Bagaimana sebuah perusahaan furniture Indonesia bisa dipercaya mengerjakan proyek-proyek hotel dan hunian mewah di berbagai belahan dunia?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan Milan berkunjung langsung ke Saniharto, perusahaan manufaktur furniture asal Indonesia yang telah berkembang menjadi pemain global di industri furniture premium.
Melalui program “Milan Goes to Saniharto” – Saniharto mengajak kita melihat lebih dekat perjalanan perusahaan, proses di balik produk furniture berkualitas tinggi, hingga bagaimana sebuah perusahaan Indonesia membangun kepercayaan di pasar internasional.
Dari Bisnis Keluarga Menjadi Manufaktur Furniture Berkelas Dunia

Perjalanan 萨尼哈尔托 dimulai pada tahun 1990 sebagai bisnis keluarga yang didirikan oleh empat bersaudara.
Nama Saniharto sendiri berasal dari nama para pendirinya, yakni Santoso, Yani, Harsono, dan Winarto.
“Awalnya kita lebih ke supply pintu-pintu untuk apartemen di Jakarta. Membuat slicing veneer. Kemudian baru membuat loose furniture. Dan akhirnya mengisi perhotelan,” ucap Narasumber Saniharto
Salah satu titik penting dalam perjalanan Saniharto adalah ketika perusahaan mulai mengerjakan proyek hotel. Dari sinilah langkah Saniharto menuju pasar internasional semakin terbuka.
Bukan Sekadar Brand, tetapi Juga Memiliki Manufaktur Sendiri

Saniharto kemudian berkembang dari pemasok melalui skema OEM hingga membangun brand dan jaringan penjualan sendiri.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Saniharto ke berbagai pasar internasional, mulai dari Amerika Serikat, kemudian ke Middle East dan Asia.
Saat ini, Saniharto juga memiliki infrastruktur layanan internasional di Asia, Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah untuk mendukung kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh Tim Milan, narasumber Saniharto menjelaskan:
“Kita sangat unik karena kita itu nggak hanya brand. Tapi kita juga manufakturnya sendiri. Bahkan we are doing our own sales.”
Model terintegrasi seperti ini membuat Saniharto dapat mengontrol lebih banyak bagian dari proses produksi.
Fasilitas manufaktur yang dimiliki juga sudah terintegrasi, mulai dari pengolahan material, veneer slicing, drying, machining, milling, assembly, finishing, inspection hingga specialized packaging.
Dengan mengendalikan berbagai tahapan tersebut dalam satu sistem manufaktur, Saniharto dapat menjaga konsistensi kualitas sekaligus menyesuaikan produk dengan kebutuhan setiap proyek.
Dari Indonesia untuk Proyek Internasional

Perjalanan Saniharto kemudian berkembang ke berbagai negara.
Untuk pasar Amerika, Saniharto bekerja sama dengan sejumlah representative yang tersebar di berbagai wilayah, seperti West Coast, East Coast, Atlanta, hingga Texas.
Selain Amerika, Saniharto juga mengembangkan jaringan ke kawasan Middle East dan Asia.
Saat ini, Saniharto telah mengerjakan berbagai proyek di pasar internasional, termasuk proyek hospitality.
Salah satu hubungan kerja sama yang cukup panjang adalah dengan Wynn Hotel di Las Vegas, yang telah berjalan sejak 2006.
Di 印度尼西亚 sendiri, berbagai proyek Saniharto juga hadir di sejumlah hotel dan properti ternama, termasuk proyek di Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali.
Dalam wawancara dengan Tim Milan, narasumber Saniharto menjelaskan antara lain: Padma Semarang, InterContinental, Fairmont, Raffles Jakarta, hingga InterContinental Bali.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan manufaktur Indonesia juga memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global ketika didukung kualitas dan konsistensi yang kuat.
Berkomitmen untuk Menjaga Kualitas dari Awal hingga Akhir

Masuk ke pasar internasional tentu bukan hanya soal menghasilkan desain yang menarik. Tantangan lainnya adalah bagaimana memastikan produk tetap memiliki kualitas yang konsisten di berbagai kondisi dan kebutuhan proyek.
Saniharto menerapkan pengawasan kualitas sejak proses awal, mulai dari pemilihan material hingga proses produksi dan quality control.
“Kita benar-benar berusaha dari the beginning till the end. Baik dari material itu sendiri, kualitas material yang kita purchase, kemudian prosesnya, sampai quality control team dari awal sampai akhir, “ ucap Narasumber Saniharto
Bagi Saniharto, perhatian terhadap kualitas tidak berhenti ketika produk selesai dibuat.
Untuk beberapa proyek, terutama di Indonesia dan kawasan Asia, Saniharto juga menangani proses instalasi dan after sales.
Artinya, layanan tidak hanya berhenti pada produksi furniture, tetapi dapat mencakup proses yang lebih luas mulai dari PO, pemasangan, hingga after sales.
Mewujudkan Furniture yang Harus Siap Menghadapi Berbagai Kondisi

Pasar global menghadirkan tantangan yang berbeda-beda.
Furniture yang digunakan di wilayah tropis tentu menghadapi kondisi yang berbeda dengan furniture yang digunakan di daerah dengan musim dingin.
Tak heran, jika Saniharto perlu memastikan produknya dapat digunakan di berbagai kondisi.
Dalam perbincangan tersebut, disebutkan bahwa Saniharto mengerjakan proyek di berbagai wilayah, mulai dari Hawaii dan Utah hingga Florida dan kawasan tropis seperti Bali.
“Dari awal kita memang harus bisa untuk any season. Misalnya kayak ST. Regis Utah, terus Florida yang lebih ke tropical, kemudian di Bali yang lebih lembap itu kita harus bisa menyesuaikan sih, ”
Tidak hanya kondisi lingkungan yang berbeda, kebutuhan desain setiap pasar juga bisa berbeda.
Misalnya, ada pasar yang lebih menyukai tampilan rustic dan open pore, sementara proyek lainnya membutuhkan detail desain yang lebih dekoratif.
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dalam mengerjakan proyek internasional.
Menggabungkan Teknologi dengan Keahlian Pengrajin Indonesia

Produk yang dihasilkan tidak hanya mengandalkan mesin, tetapi juga memanfaatkan keahlian pengrajin Indonesia dalam menghasilkan detail dan karakter tertentu.
“Kita memang bisa meng-combine antara manual work, hand work dengan Indonesian manual workmanship dengan machineries.”
Pendekatan tersebut memungkinkan Saniharto mengerjakan berbagai kebutuhan desain, mulai dari carving, elemen Indonesian heritage, batik, penggunaan metal, hingga material seperti mother of pearl.
Dengan begitu, furniture yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai produk, tetapi juga dapat membawa karakter dan nilai desain yang lebih kuat.
Terus Berinovasi Mengikuti Perkembangan Desain
Industri furniture dan hospitality terus berkembang. Selera desain berubah, kebutuhan pasar semakin beragam, dan desainer juga semakin berani mengeksplorasi material serta teknik baru.
Dari situlah, inovasi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Saniharto.
“Kita harus mengikuti zaman untuk bisa mengerjakan. Kita memang harus inovasi terus, baik dari bahan, finishing, dan lain sebagainya.”
Penggunaan berbagai material dan teknik baru menjadi salah satu bentuk bagaimana Saniharto berusaha mengikuti perkembangan industri.
Apa Rahasia Bisa Go Global?

Bagi perusahaan yang ingin mengikuti perjalanan serupa dan mulai memasuki pasar internasional, Saniharto membagikan satu hal penting: mulai mencoba dan membangun koneksi.
Menurut Saniharto, salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah masuk melalui model OEM.
“Pertama sih mungkin harus punya koneksi. Awalnya mungkin bisa OEM. Kalau OEM itu kan memang lebih mudah.”
Melalui OEM, perusahaan dapat terlebih dahulu membangun pengalaman sebagai supplier dan memahami bagaimana kebutuhan pasar internasional bekerja.
Namun, ketika ingin membangun brand sendiri, tantangannya tentu menjadi lebih besar.
Perusahaan harus memiliki struktur yang lebih luas, termasuk representative team, office, hingga sistem after sales.
“Kalau sudah mensupply dengan brand tersendiri memang itu membutuhkan PR yang lebih, karena artinya kita seperti memiliki representative team. Nggak hanya representative, kita juga memiliki office. Jadi memang setup-nya lebih.”
Dengan kata lain, menjadi brand global bukan hanya tentang menjual produk ke luar negeri. Ada sistem, jaringan, pelayanan, dan konsistensi yang harus dibangun dalam jangka panjang.
Milan dan Saniharto: Berbagi Cerita tentang Kualitas dan Industri Indonesia

Melalui Milan Goes to Saniharto, Milan ingin membawa audiens melihat lebih dekat bagaimana sebuah perusahaan Indonesia berkembang dan mampu mengambil bagian dalam proyek-proyek berskala internasional.
Kolaborasi ini bukan sekadar kunjungan atau percakapan tentang furniture. Ada cerita tentang perjalanan bisnis keluarga, proses membangun brand, menjaga kualitas, menghadapi kebutuhan pasar global, hingga pentingnya terus berinovasi.
Di balik sebuah furniture yang terlihat sempurna, ada proses panjang yang melibatkan material, manufaktur, quality control, craftsmanship, desain, hingga pemasangan.
Dan di balik perjalanan Saniharto menuju pasar global, ada konsistensi untuk terus belajar dan berkembang.
Seperti yang disampaikan dalam percakapan tersebut, keberhasilan Saniharto tidak berdiri sendiri.
“It’s a team, it’s really a teamwork. So we are very grateful to be Saniharto team.”
Bagi Milan, cerita seperti ini penting untuk dibagikan. Karena semakin banyak kisah tentang industri Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global, semakin banyak pula inspirasi yang bisa menjadi pemicu bagi pelaku industri lainnya untuk berani berkembang lebih jauh.
Milan Goes to Saniharto menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk mengenal lebih dekat perjalanan tersebut—dari Indonesia, untuk dunia.

